“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syetan-syetan itulah yang kafir (mengerjakan syihir). Mereka mengajarkan syihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kalian kafir’. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudlarat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudlarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnyaa mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya diakhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al Baqoroh: 102)
pada dasarnya Paranormal adalah dukun. Mereka tidak mau disebut dukun karena perkataan dukun tidak akan laku untuk dijual dikalangan masyarakat Indonesia karena imej dari perkataan tersebut sangatlah tidak intelektual. Oleh sebab itu banyak dari kalangan dukun memilih tempat-tempat praktek di perhotelan, mendirikan tempat-tempat pesantren, melakukan seminar-seminar ilmiah, memiliki perkantoran dan lain-lain dengan maksud merubah pandangan masyarakat mengenai imej dari praktek perdukunan tersebut. Bahkan mereka tidak segan-segan meminjam ajaran-ajaran berbagai agama sebagai senjata untuk mengalihkan perhatian masyarakat tersebut. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk memberikan titel pada nama mereka seperti: abi, ustad, romo, kyai atau bahkan dengan gelar-gelar intelek palsu seperti MBA, Ir, MA, BA, SE, dan lain-lain.
Maret 17, 2009
awas… nyadur ilmu hitam
Tinggalkan sebuah Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik